UNTIDAR Juara Lomba PCTA 2018

Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Tingkat Jawa tengah bulan Juli lalu membawa  Universitas Tidar (UNTIDAR) menjadi Juara maju ke tingkat nasional. Perlombaan selanjutnya bertempat di kota Bandung, Lomba PCTA tingkat nasional dimulai tanggal 17 september lalu. UNTIDAR mengirimkan 2 mahasiswanya , Wilda Ulfiyanti dan Rahma Adinda Dwi Lestari sebagai perwakilan dalam lomba itu. Keduanya merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTDIAR.

Lomba ini diselenggarakan oleh Kementrian Pertahanan (Kemhan) bertempat di Hotel Golden Flower, Bandung dan berakhir pada tanggal 21 September. Kegiatan disana tidak hanya perlombaan, ada pula pembekalan kewirausahaan, pembekalan perkembangan teknologi industri pertahanan serta manajemen bisnis. Peserta dikarantina selama kegiatan berlangsung dan diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sampai akhir. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk pentas seni bergabung dengan perserta lainnya menampilkan lagu, puisi, tarian maupun bermusik sebagai  penutupan acara.

Persiapan yang telah dilaksanakan sejak bulan lalu dimulai dari persiapan esai, pembuatan video, leaflet, serta kostum untuk mengikuti perlombaan. Tahun ini Lomba PCTA sedikit berbeda dari perlombaan sebelumnya. Selain membuat esai, peserta diminta membawa alat untuk dipresentasikan dalam lomba tersebut. “ Lomba kali ini tidak hanya debat tetapi juga membuat esai dan produk untuk dipresentasikan serta diuji secara isi, manfaat, kegunaan dan keefektifannya”, jelas Wilda.

Mahasiswi Prodi Bahasa Inggris itu juga menambahkan untuk mengikuti lomba ini perlu persiapan matang karena penilaian berdasarkan penguasaan esai, pemaparan produk dan sajian penyampaian yang berisi. “Tantangan lomba nanti kita harus pintar dalam menyampaikan jawaban debat  dengan bungkusan menarik dan menyakinkan, karena yang dilihat adalah seberapa kita dapat menguasai esai serta  produknya” tambahnya.

Alat yang menjadi produk untuk lomba kali ini bernama ASEMDONG (Alat Semprot Dorong), yang dapat digunakan petani dalam menyemprotkan pestisida cair pada tanamannya. Kinerja alat ini dengan cara didorong kedepan dan perputaran roda itu yang menghubungkan mekanisme tuas serta batang pompa. Pergerakan roda yang dihubungkan dengan batang pompa untuk membuat gerakan pada batang pompa naik turun berulang memompa isi pestisida cair untuk keluar melalui sprayer. Sedikit banyaknya pestisida cair yang keluar melalui sprayer itu dapat diukur sesuai keperluannya.

Alat tersebut merupakan inovasi dari karya mahasiswa UNTIDAR yang membantu meringankan pekerjaan petani. Uji coba telah dilaksanakan pada petani daerah Kandangan, Temanggung.

“Kita sebut alat itu sebagai inovasi karena kegunaan alat tersebut pada petani membantu meringankan pekerjaannya, alat tradisional yang banyak dipakai saaat ini banyak membuat petani mudah lelah karena pemakaian alatnya digendong pada bahu”, Jelas Rahma Adinda.

Dinda menambahkan daerah Kandangan, Temanggung memiliki jenis tanah kering dan berada pada lereng gunung, sehingga alat ini cocok digunakan agar petani disana karena alat yang digunakan tidak perlu digendong. Memiliki kapasitas pestisida yang tidak jauh berbeda dengan alat semprot tradisonal, alat semprot dorong ini mampu menampung 12 liter pestisida cair. “Petani tidak perlu menggendong alatnya dengan beban berat, alat semprot dorong ini mampu menampung 12 liter pestisida cair dalam sekali jalan”, tambahnya.

Kedua mahasiswi tersebut juga didampingi oleh Retno Dewi Pramodia Ahsani, S.I.P., M.P.A. (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) serta Xander Salahudin, S.T., M.Eng. (Dosen Fakultas Teknik) membantu kesiapan selama perlombaan PCTA berlangsung.

Dengan hasil meraih juara 2 pada Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) nasional tingkat perguruan tinggi. Penghargaan atas prestasi ini diserahkan secara langsung oleh Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Kamis (20/09) di Hotel Golden Flower, Bandung.

UNTIDAR Mewakili Jawa Tengah Maju Lomba PCTA 2018

Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Tingkat Jawa tengah bulan Juli lalu membawa  Universitas Tidar (UNTIDAR) menjadi Juara maju ke tingkat nasional. Perlombaan selanjutnya bertempat di kota Bandung, Lomba PCTA tingkat nasional dimulai tanggal 17 september mendatang. UNTIDAR mengirimkan 2 mahasiswanya , Wilda Ulfiyanti dan Rahma Adinda Dwi Lestari sebagai perwakilan dalam lomba itu. Keduanya merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTDIAR.

Lomba ini diselenggarakan oleh Kementrian Pertahanan (Kemhan) bertempat di Hotel Golden Flower, Bandung dan berakhir pada tanggal 21 September. Kegiatan disana tidak hanya perlombaan, ada pula pembekalan kewirausahaan, pembekalan perkembangan teknologi industri pertahanan serta manajemen bisnis. Peserta dikarantina selama kegiatan berlangsung dan diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sampai akhir. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk pentas seni bergabung dengan perserta lainnya menampilkan lagu, puisi, tarian maupun bermusik sebagai  penutupan acara.

Persiapan yang telah dilaksanakan sejak bulan lalu dimulai dari persiapan esai, pembuatan video, leaflet, serta kostum untuk mengikuti perlombaan. Tahun ini Lomba PCTA sedikit berbeda dari perlombaan sebelumnya. Selain membuat esai, peserta diminta membawa alat untuk dipresentasikan dalam lomba tersebut. “ Lomba kali ini tidak hanya debat tetapi juga membuat esai dan produk untuk dipresentasikan serta diuji secara isi, manfaat, kegunaan dan keefektifannya”, jelas Wilda.

Mahasiswi Prodi Bahasa Inggris itu juga menambahkan untuk mengikuti lomba ini perlu persiapan matang karena penilaian berdasarkan penguasaan esai, pemaparan produk dan sajian penyampaian yang berisi. “Tantangan lomba nanti kita harus pintar dalam menyampaikan jawaban debat  dengan bungkusan menarik dan menyakinkan, karena yang dilihat adalah seberapa kita dapat menguasai esai serta  produknya” tambahnya.

Alat yang menjadi produk untuk lomba kali ini bernama ASEMDONG (Alat Semprot Dorong), yang dapat digunakan petani dalam menyemprotkan pestisida cair pada tanamannya. Kinerja alat ini dengan cara didorong kedepan dan perputaran roda itu yang menghubungkan mekanisme tuas serta batang pompa. Pergerakan roda yang dihubungkan dengan batang pompa untuk membuat gerakan pada batang pompa naik turun berulang memompa isi pestisida cair untuk keluar melalui sprayer. Sedikit banyaknya pestisida cair yang keluar melalui sprayer itu dapat diukur sesuai keperluannya.

Alat tersebut merupakan inovasi dari karya mahasiswa UNTIDAR yang membantu meringankan pekerjaan petani. Uji coba telah dilaksanakan pada petani daerah Kandangan, Temanggung.

“Kita sebut alat itu sebagai inovasi karena kegunaan alat tersebut pada petani membantu meringankan pekerjaannya, alat tradisional yang banyak dipakai saaat ini banyak membuat petani mudah lelah karena pemakaian alatnya digendong pada bahu”, Jelas Rahma Adinda.

Dinda menambahkan daerah Kandangan, Temanggung memiliki jenis tanah kering dan berada pada lereng gunung, sehingga alat ini cocok digunakan agar petani disana karena alat yang digunakan tidak perlu digendong. Memiliki kapasitas pestisida yang tidak jauh berbeda dengan alat semprot tradisonal, alat semprot dorong ini mampu menampung 12 liter pestisida cair. “Petani tidak perlu menggendong alatnya dengan beban berat, alat semprot dorong ini mampu menampung 12 liter pestisida cair dalam sekali jalan”, tambahnya.

Kedua mahasiswi tersebut juga didampingi oleh Retno Dewi Pramodia Ahsani, S.I.P., M.P.A. (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) serta Xander Salahudin, S.T., M.Eng. (Dosen Fakultas Teknik) membantu kesiapan selama perlombaan PCTA berlangsung.

Didi Muno : Senang, Dapat Kembali Mengibarkan Bendera Universitas Tidar di PIMNAS

Dari 136 Universitas se-Indonesia, Universitas Tidar (UNTIDAR) terpilih dalam  Penetapan Peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31 Tahun 2018 yang terselenggara di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY ) mulai tanggal 28 agustus dan berakhir di tanggal 02 september.

Dimulai dengan pengumpulan proposal Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) sejumlah 48.088 se Indonesia, kemudian diseleksi hingga 4.188 proposal. Keseluruhan proposal didanai kemudian diseleksi lagi, hingga akhirnya dilakukan monev eksternal sehingga tinggal 440 peserta yang maju PIMNAS. UNTIDAR  termasuk dalam 440 peserta yang mengikuti PIMNAS dengan menampilkan alat yang diberi nama ALTABATIS.

ALTABATIS (Alat Tanam Biji Jagung Semi Otomatis),  merupakan alat tanam biji jagung. Inovasi alat yang memanfatkan gaya sentrifugal dari putaran roda untuk membuka dan menutup katup keluaran biji dan abu.  Aplikasi alat ini digunakan pada tanah liat sesuai dengan kondisi mitra kami yang berada di Blengorwetan, Kecamatan Ambal, Kabupaten, Kebumen.

Sebelum mengikuti PIMNAS , alat ini telah disosialisasikan dan dicoba digunakan pada petani yang terdapat pada desa Blengorwetan, Kebumen. Repson dari petani bagus, karena memudahkan mereka dalam menanam biji jagung. Selain itu juga waktu penamannya menjadi cepat.

“ Bersyukur  kami panjatkan karena rangkaian seleksi PKM yang begitu panjang hampir 1 tahun perjalanannya hingga sampai PIMNAS”, ungkap Didi Muno.

Menurut Ketua PKM ALTABATIS itu,  selama seminggu, acara PIMNAS ada dua kejuaraan terselenggara yaitu dimulai dari presentasi dan dilanjutkan dengan gelar produk dan poster. “Rangkain acara disana banyak sekali, satu minggu acara PIMNAS itu tak terasa, karena semua menyenangkan. Kami mendapatkan banyak ilmu, pengalaman serta teman”, jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk perlombaan tetapi juga bertemu dengan banyak mahasiswa se-indonesia sehingga dapat saling bertukar gagasan, pikiran,  dan menunjukan karya ilmiah masing-masing.

“Senang karena bisa bertemu mahasiswa- mahasiswa hebat disana dan dengan bangganya bisa mengibarkan bendera UNTIDAR di sana,  diantara ratusan bendera universitas lain se-indonesia”, katanya.

Didi menambahakan bahwa UNTIDAR pernah masuk dalam PIMNAS. Tahun 2016 lalu dan tahun ini kembali mengikuti ajang tersebut. Menurutnya PIMNAS merupakan  kompetisi yang  bergengsi untuk mahasiswa indonesia.

Baca : http://untidar.ac.id/pkm-2018-altabatis-alat-tanam-biji-jagung-semi-otomatis/